Pancasila Sebagai Sistem Etika (Lanjutan)

Dasar konsep tinjauan historis terdiri atas dua kata yaitu tinjauan dan historis. Dalam kamus bahasa Indonesia tinjauan berarti menjenguk, melihat, memeriksa, dan meneliti untuk kemudian menarik kesimpulan (Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, 1997:554). Sedangkan historis berasal dari bahasa Yunani istoria yang berarti ilmu yang biasanya diperuntukkan bagi penelaahan mengenai gejala-gejala terutama hal-hal manusia secara kronologis. Dalam bahasa Indonesia kata Historis lebih dikenal dengan Sejarah yang berasal dari bahasa Arab yakni syajarah yang berarti pohon. Kata ini masuk ke Indonesia sesudah terjadi akulturasi antara kebudayaan Indonesia dengan kebudayaan Islam (Rustam E. Tamburaka, 1999:2).

Pada Era Orde Lama masyarakat Indonesia sudah mengenal nilai-nilai moral yang menjadi tuntunan, pandangan hidup dalam kehidupan bermasyarakat tetapi waktu Era Orde lama nilai-nilai tersebut tidak ditegaskan sebagai sistem etika, hanya sebagai Philosofische Grondslag , (bersifat teoritis). Disisi lain pada masa orde lama semangat demokrasi tinggi, dibuktikan dengan penyelenggaraan Pemilu waktu itu diikuti banyak partai, demokrasinya menganut demokrasi terpimpin.

Era Orde Baru muncul konsep manusia Indonesia seutuhnya sebagai cerminan manusia yang berperilaku dan berakhlak mulia sesuai dengan nilai-nilai Pancasila. Manusia sebagai makhluk cipta Tuhan Yang Maha Esa terdiri dari Jasmani dan Rohani, makhluk Individu sekaligus makhluk sosial.Sebagai makhluk sosial manusia memiliki kebutuhan yang tidak dapat terpenuhi tanpa kerja dengan orang lain. Sifat kodrat manusia sebagai makhluk individu dan sosial harus dikembangkan secara selaras, serasi, dan seimbang (Martodihardjo, 1993: 171). Untuk itu Pemerintah mulai mensosialisasikan Pancasila melalui Penataran P4 diinstitusionalkan dalam wadah BP-7. Sosialisasi yang dilakukan waktu itu adalah dengan memberikan Penataran P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila) kepada karyawan Pegawai Negeri Sipil maupun para mahasiswa yang baru mulai masuk Perguruan Tinggi. Penataran bagi mahasiswa baru dilakukan selama 2 (dua) Minggu berturut turut. Berikut adalah penjabaran pengamalan butir butir kelima sila Pancasila tersebut (Soeprapto, 1993: 53-55).

a. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa

  • Manusia Indonesia percaya dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab.
  • Hormat menghormati dan bekerja sama antar para pemeluk agama dan para penganut kepercayaan yang berbeda-beda sehingga terbina kerukunan hidup.
  • Saling menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya.
  • Tidak memaksakan suatu agama dan kepercayaan kepada orang lain

b. Sila Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab

  • Mengakui persamaan derajat, persamaan hak, dan persamaan kewajiban asasi antar sesama manusia sesuai dengan harkat dan martabatnya sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa.
  • Saling mencintai sesama manusia.
  • Mengembangkan sikap tenggang rasa.
  • Tidak semena-mena terhadap orang lain.
  • Menjunjung tinggi nilai kemanusiaan.
  • Gemar melakukan kegiatan kemanusiaan.
  • Berani membela kebenaran dan keadilan.
  • Bangsa Indonesia merasa dirinya sebagai bagian dari seluruh umat manusia. Oleh karena itu, dikembangkan sikap hormat menghormati dan bekerja sama dengan bangsa lain.

c. Sila Persatuan Indonesia

  • Menempatkan persatuan, kesatuan, kepentingan, keselamatan bangsa dan bernegara di atas kepentingan pribadi atau golongan.
  • Rela berkorban untuk kepentingan bangsa dan negara.
  • Cinta tanah air dan bangsa.
  • Bangga sebagai bangsa Indonesia dan bertanah air Indonesia.
  • Memajukan pergaulan demi persatuan dan kesatuan bangsa yang berbhineka tunggal ika.

d. Sila Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmah Kebijaksanaan dalam Permusyawaran/ Perwakilan

  • Sebagai warga negara dan warga masyarakat mempunyai kedudukan, hak, dan kewajiban yang sama dengan mengutamakan kepentingan negara dan masyarakat.
  • Tidak memaksakan kehendak kepada orang lain.
  • Mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan untuk kepentingan bersama.
  • Musyawarah untuk mencapai mufakat diliputi oleh semangat kekeluargaan.
  • Dengan itikad yang baik dan rasa tanggung jawab menerima dan melaksanakan hasil putusan musyawarah.
  • Musyawarah dilakukan dengan akal sehat dan sesuai dengan hati nurani yang luhur.
  • Putusan yang diambil harus dapat dipertanggungjawabkan secara moral kepada Tuhan Yang Maha Esa, menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia serta nilai-nilai kebenaran dan keadilan, dengan mengutamakan persatuan dan kesatuan demi kepentingan bersama.

e. Sila Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia

  • Mengembangkan perbuatan yang luhur yang mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan dan kegotongroyongan.
  • Bersikap adil.
  • Menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban
  • Menghormati hak-hak orang lain.
  • Suka memberi pertolongan kepada orang lain
  • Menjauhi sikap pemerasan terhadap orang lain.
  • Tidak bersifat boros.
  • Tidak bergaya hidup mewah.
  • Tidak melakukan perbuatan yang merugikan kepentingan umum.
  • Suka bekerja keras.
  • Menghargai hasil karya orang lain.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url