Penerapan Nilai-Nilai Pancasila

Bangsa Indonesia adalah bangsa multikultural, dimana bangsa Indonesia terdiri dari ribuan pulau, ratusan bahasa, suku, bangsa dan agama. Kondisi ini merupakan berkah dan hikmah apabila kita mampu mengelola dalam sebuah keterpaduan yang menghasilkan keindahan dan kekuatan, tetapi juga bisa menjadi musibah disintregasi bangsa manakala multikulturalitas itu tidak terakomodasi dengan baik. Oleh karena itu, dapat dimengerti jika tujuan dari pendirian bangsa dan negara kesatuan republik Indonesia adalah negara yang bersatu, berdaulat adil dan makmur. Keberagaman suku, agama, budaya, ras dan antar golongan bukanlah suatu ancaman dan potensi konflik yang berakibat terjadinya disintegrasi bangsa. Tetapi justru perbedaan itu adalah jalan menuju pengintegrasian bagi bangsa Indonesia. Artinya, kondisi masyarakat yang sangat multikultural itu bisa mendorong masyarakat untuk secara otomatis melakukan pengintegrasian secara menyeluruh.

Dalam perkembangannya kondisi masyarakat yang multikultur tersebut pernah mengalami suatu permasalahan yang berakibat menimbulkan konflik antar kelompok masyarakat, yang diawali adanya pertikaian antar pribadi anggota masyarakat kemudian meluas sehingga timbul konflik sosial. yang berwujud bentrokan-bentrokan antara satu dengan yang lain bahkan sampai dapat terjadi bentrokan fisik. Konflik merupakan tindakan satu pihak yang berakibat menghalangi, menghambat atau mengganggu tindakan pihak lain. Konflik antar kelompok masyarakat dalam masyarakat majemuk hampir selalu terjadi atas 2 (dua) dasar utama: (Antonius Atosoki dkk)

a. Konflik antar kelompok umat beragama

Konflik antar umat beragama biasaya disebabkan oleh adanya veste Intertest yang masuk ke dalam dan mengatasnamakan agama. Agama menjadi alat kepentingan seseorang/sekelompok orang untuk meraih apa yang diinginkan.

b. Konflik antar kelompok suku

Konflik antar kelompok suku beberapa kali pernah terjadi di Indonesia. Biasanya konflik initerjadi karena persaingan/perebutan kepentingan ekonomi. Kesamaan suku hanya sebagai sarana mobilisasi massa guna membangun solidaritas. Perebutan aset yang jumlahnya terbatas inilah yang selalu menjadi faktor pemicu timbulnya konflik sosial diberbagai tempat.

Konflik yang sering terjadi di Indonesia banyak bermuatan Sara. Sara adalah akronim dari Suku Ras Agama dan Antar golongan. Sara adalah pandangan ataupun tindakan yang didasari dengan pikiran sentimen mengenai identitas diri yang menyangkut keturunan, agama, kebangsaan atau kesukuan dan golongan. Yang digolongkan sebagai sebuah tindakan. Sara adalah segala macam bentuk tindakan baik itu verbal maupun nonverbal yang didasarkan pada pandangan sentimen tentang identitas diri atau golongan.Isu Sara selalu menjadi hal yang sensitif di Indonesia.

Banyak kasus yang kemudian diseret ke isu Sara. Sara dapat digolongkan menjadi tiga kategori:
Pertama, Individual. Di mana tindakan SARA dilakukan oleh individu atau golongan dengan tindakan yang bersifat menyerang, melecehkan, mendiskriminasi, atau menghina golongan lainnya.

Kedua, Institusional. Tindakan ini merupakan tindakan yang dilakukan oleh institusi atau pemerintah melalui aturan atau kebijakan yang bersifat diskriminatif bagi suatu golongan.

Ketiga, Kultural. SARA yang dikatagorikan di sini adalah tindakan penyebaran tradisi atau ide-ide yang bersifat diskriminatif antar golongan.

Dampak dari tindakan SARA adalah konflik antar golongan yang dapat menimbulkan kebencian dan berujung pada perpecahan. Bahayanya politik identitas atau Sara melahirkan konflik di tengah masyarakat.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url